Kegiatan

  • Detail

Tanggapan GKIA atas Artikel lifestyle.kompas.com tentang Hubungan Menyusui dan Kerusakan Gigi

5 Jul 2017

Tanggapan GKIA :

 

Sehubungan dengan artikel “Risiko yang Bisa Timbul Jika Bayi Tetap Menyusui Setelah Usia 2 Tahun” yang dimuat dalam lifestyle.kompas.com pada tanggal 3 Juli 2017[1], perkenankan kami dari Gerakan Kesehatan Ibu dan Anak (GKIA) menyampaikan beberapa hal berikut:

  1. Salah satu rekomendasi dalam Global Strategy on Infant and Child Feeding yang dikembangkan oleh WHO dan Unicef serta diadopsi dan dipromosikan oleh Kementerian Kesehatan RI adalah pola pemberian makan terbaik bagi bayi dan anak, sebagai berikut: (1) Inisiasi Menyusu Dini segera setelah lahir; (2) Menyusui secara eksklusif sejak lahir sampai bayi berumur 6 bulan, (3) Mulai memberikan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang baik dan benar sejak bayi berumur 6 bulan; dan (4) Tetap menyusui sampai anak berumur 24 bulan atau lebih.
  2. Dalam artikel lifestyle.kompas.com tanggal 3 Juli 2017 berjudul “Risiko yang Bisa Timbul Jika Bayi Tetap Menyusui Setelah Usia 2 Tahun” yang diambil dari sumber nypost.com dinyatakan “memilih menyusui bayi berusia lebih dari dua tahun tidak disarankan”. Hal ini bertentangan dengan fakta adanya rekomendasi dari WHO, Unicef dan Kemenkes RI dalam butir 1 di atas yang menyarankan untuk tetap menyusui sampai anak berumur 24 bulan atau lebih.
  3. Lebih lanjut dalam artikel lifestyle.kompas.com berjudul “Risiko yang Bisa Timbul Jika Bayi Tetap Menyusui Setelah Usia 2 Tahun” tanggal 3 Juli 2017 disebutkan bahwa salah satu alasan untuk tidak menyusui bayi berusia lebih dari dua tahun adalah karena “meningkatkan resiko masalah gigi berlubang saat anak berusia lima tahun, terlepas dari berapa kandungan gula pada makanan mereka setiap hari selain ASI”. Pernyataan ini mengutip kesimpulan hasil penelitian Karen Glazer Peres dari University of Adelaide di Australia dan rekannya dengan judul “Impact of Prolonged Breastfeeding on Dental Caries: A Population-Based Birth Cohort Study”  yang mengumpulkan data 1.129 anak yang lahir pada tahun 2004 di Pelotas, Brasil[2]. Dalam bagian diskusi artikel lengkap penelitian ini, GKIA menemukan pengakuan dari Peneliti tentang keterbatasan penelitian, di mana variabel perancu (confounder) yang dikontrol hanya sebatas “konsumsi makanan yang mengandung gula”, sementara informasi tentang sumber potensial lain penyebab karies dan gigi berlubang tidak berhasil didapatkan dan dikontrol dalam penelitian ini. Itulah sebabnya dalam bagian kesimpulan penelitian ini disampaikan masih perlunya penelitian lebih lanjut unutk memahami mekanisme dari temuan hasil penelitian ini serta upaya pencegahan karies gigi sedini mungkin untuk bayi dan anak karena “menyusui itu sangat menguntungkan bagi kesehatan anak”. Publikasi hasil temuan penelitian yang tidak lengkap seperti yang tercantum dalam artikel lifestyle.kompas.com berjudul “Risiko yang Bisa Timbul Jika Bayi Tetap Menyusui Setelah Usia 2 Tahun” tanggal 3 Juli 2017 tanpa penegasan keterbatasan penelitian dan kesimpulan yang utuh dari Peneliti sangat berbahaya karena berpotensi menyesatkan pikiran pembaca yang pada akhirnya mengambil langkah yang salah dalam pemberian makan bayi dan anak.
  4. Dalam penelitian “Risk Factors associated with Early Childhood Caries” yang dilakukan oleh Sun HB dan kawan-kawan di Qingdao, Cina dan melibatkan 392 anak berusia 24-71 bulan pada tahun 2017 yang dimuat dalam jurnal ilmiah NCBI[3] ditemukan 3 faktor sangat bermakna sebagai penyebab karies dan gigi berlubang pada anak, yaitu: (1) terlalu banyak makan permen; (2) tidak menyikat gigi sebelum tidur; (3) orang tua tidak membantu anak menyikat gigi. Di samping itu ada beberapa faktor bermakna lain yang berhubungan dengan masalah karies dan gigi berlubang pada anak, termasuk: tingkat pendidikan orang tua, pengetahuan tentang kebersihan mulut, penghasilan keluarga, usia mulai sikat gigi, dan keteraturan menyikat gigi. Dengan demikian banyak faktor yang dapat memengaruhi masalah karies dan gigi berlubang selain makanan yang mengandung gula, sehingga dalam penelitian hubungan ASI diteruskan setelah usia anak 2 tahun dengan kejadian karies dan gigi berlubang faktor-faktor ini juga patut dikontrol untuk mendapatkan kesimpulan yang lebih valid serta upaya pencegahan karies dan gigi berlubang yang lebih tepat.
  5. Banyak penelitian lain yang justru menunjukkan tidak adanya hubungan antara lamanya menyusui dengan kejadian karies dan gigi berlubang di kalangan bayi dan anak, di antaranya:  “Breastfeeding: an overview of oral and general health benefits” (Salone LR dkk, J Am Dent Assoc, 2013 Feb;144(2):143-51)[4], “Association Between Infant Breastfeeding and Early Childhood Caries in the United States (Hiroko Iida dkk, Pediatrics, October 2007, VOLUME 120/ISSUE 4)[5], Investigation of the role of human breast milk in caries development (Pamela R Erickson, American Academy of Pediatric Dentistry, Pediatric Dentistry – 21:2, 1999)[6]. Dalam artikel “Taking Care of Your Breastfed Baby’s Teeth” yang ditulis oleh Amy Peterson BS, IBCLC, and Scott Chandler, DMD dan dipublikasi di International Lactation Consultant Association[7] disebutkan kerusakan gigi disebabkan oleh infeksi bakeri yang dipicu oleh derajat keasaman (pH) yang rendah, adanya sisa makanan, dan mulut kering akibat air liur yang berkurang. Air Susu Ibu (ASI) tidak menyebabkan penurunan pH di mulut bayi dan anak, menimbulkan timbunan kalsium dan mineral di gigi untuk perlindungan gigi, tidak menyebabkan kerusakan gigi kecuali ada sisa makanan lain di dalam mulut, mencegah pertumbuhan bakteri, dan tidak menyisakan ASI di mulut karena akan tertelan semuanya. Sebaliknya, susu formula yang berbahan dasar susu hewan menyebabkan pH mulut rendah, merusak gigi karena kandungan gulanya, merusak gigi walaupun tidak ada sisa makanan lain di mulut, meningkatkan pertumbuhan bakteri, dan tetesan-tetesannya akan tetap melekat mulut yang meningkatkan risiko kerusakan gigi.

 

Berdasarkan hal-hal di atas GKIA:

  1. Mengapresiasi Kompas yang selama ini kami nilai cukup konsisten dalam mendukung ibu menyusui melalui publikasi artikel-artikel kesehatannya.
  2. Menyayangkan publikasi artikel lifestyle.kompas.com pada tanggal 3 Juli 2017 berjudul “Risiko yang Bisa Timbul Jika Bayi Tetap Menyusui Setelah Usia 2 Tahun” yang berpotensi menyesatkan pikiran pembaca karena tidak menyajikan informasi keterbatasan dan kesimpulan secara lengkap serta tidak dielaborasi dengan sumber penelitian lain yang bisa memberikan informasi yang berimbang, tepat, dan bermanfaat bagi pembaca, khususnya ibu yang sedang hamil dan menyusui.
  3. Meminta lifestyle.kompas.com memuat surat GKIA ini sebagai tanggapan terhadap artikel di atas untuk memberikan informasi yang lebih lengkap dan berimbang dalam mendukung ibu menyusui sampai 2 tahun atau lebih sambil mendorong orangtua memperhatikan kebersihan gigi dan mulut bayi dan anak mereka sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

 

Atas perhatian dan kerjasamanya yang baik, kami ucapkan terima kasih.

Gerakan Kesehatan ibu dan Anak

Narahubung:

  1. Dr. dr. Tan Shot Yen, M.Hum (+62 812-9124-628)
  2. Dr. Wiyarni Pambudi, SpA, IBCLC (+62 811-1073-143)
  3. Nia Umar, S.Sos, MKM, IBCLC (+62 811-1661-888)
  4. Dr. Candra Wijaya, M.Epid (+62 815-8139-206)